Selasa, 26 Oktober 2010

iseng nih cerita

Di saat semua kehidupan terasa begitu dipenuhi kekosongan, kehampaan dan roda waktupun terus berjalan membuat aku terbaring dan terdiam bagaikan serpihan dari sisa-sisa ketidakpastian yang aku terima dan jalani. Aku berusaha keluar dari anggapan bahwa diriku adalah sumber dari kesalahan yang aku yakini bahwa manusia bisa hidup abadi, kekal dan tidak mati. Banyak misteri yang membuatku berpikir bahwa alam menyembunyikan suatu tempat yang bisa menembus ruang dan waktu, lari dan terus berlari menghindari waktu agar mampu bertahan, aku percaya dan tidak akan berhenti sampai aku bisa menjelajahi waktu walaupun harus berakhir dengan ketidakpastian, tidak peduli seberapa terasingnya aku dengan memilih hidup dengan cara yang memalukan, bagiku mataku berbeda dengan mereka, aku melihat dari semua arah mata angin dan mereka hanya dari dua sudut, aku dewa dalam duniaku dan suatu hari aku dewa dihidup mereka disana pula mereka memujaku dan menyembahku karena tersadar dari kebutaan mereka terhadap dunia. Kenyataan berbeda aku keluar dari pintu imajinasiku dan melihat sekelilingku hanya tembok-tembok rapuh didalam sebuah kamar yang tidak memiliki pintu, akupun berteriak sekeras-kerasnya seraya mencari jalan keluar hingga aku mati dan membusuk didalam ruangan itu. Tersadar “dimana aku?” aku pikir inilah dunia kematian yang gelap, kubuka mata lebih jelas lagi dan sadar, ini kamarku.